Jumat, 15 Februari 2013

AKHLAK


Sifat-sifat Terpuji

1.        Husnudzhon kepada Allah
                 Yaitu berbaik sangka atas semua ketentuan yang telah digariskan Allah SWT kepada hambanya.
2.        Gigih
            Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia disebutkan bahwa kata gigih berasal dari bahasa Minangkabau yang artinya berkeras hati, tabah, dan rajin. Sifat gigih hendaknya diterapkan dalam hal-hal yang baik dan diridhoi Allah SWT. Sifat gigih hendaknya diterapkan dalam persoalan berikut :
a.      Menuntut ilmu pemgetahuan
b.      Bekerja mencari rejeki yang halal
3.        Berinisiatif
            Kata berinisiatif berasal dari bahasa Belanda yag berarti prakarsa dan langkah pertama. Salah seorang sahabat Nabi Muhammad SAW yang termasuk inisiator cemerlang dalam strategi peperangan adalah Salman Al-Farisi.
4.        Rela berkorban dan Ikhlas
            Dalam mempertahankan dan berusaha mewujudkan cita-cita hidup tentu membutuhkan perjuangan, sedangkan setiap perjuangan tentu memerlukan pengorbanan baik waktu, tenaga, pikiran, harta benda dan bahkan jiwa raga. Perjuangan dan pengorban yang dilandasi dengan niat ikhlas untuk memperoleh rida dan rahmatnya tentu akan mengubah nasib kearah yang lebih baik.
5.        Raja’
            Raja’ adalah sikap mengharap rida, rahmat dan pertolongan Allah SWT serta yakin bahwa hal yang kita inginkan dapat diraih.
6.        Optimis
            Yaitu pengharapan kita pada pertolongan dan rahmat Allah SWT. Sikap ini akan memberikan semangat untuk terus maju menyongsong masa depan dengan keyakinan bahwa segala sesuatu yamg diharapkan akan tercapai dengan disertai usaha yang maksimal.
7.        Dinamis
            Yaitu sikap untuk terus berkembang, berpikiran cerdas, penuh kreasi dan rajin beradaptasi dengan lingkungan. Orang yang bersikap dinamis tidak akan merasa puas dengan prestasi-prestasi yang diperoleh tetapi akan berusaha terus-menerus untuk meningkatkan kualitas diri.
8.        Adil
            Dalam Kamus Bahasa Indonesia, kata adil berasal dari bahasa Arab yang berarti tidak berat sebelah, jujur, tidak berpihak, atau proporsional. Pengertian adil menurut istilah ilmu akhlak dapat dikemukakan sebagai berikut :
·        Meletakkan sesuatu pada tempatnya
·        Menerima hak tanpa lebih dan memberikan hak orang lain tanpa kurang
9.        Rida
            Kata rida berasal dari bahasa Arab yang artinya rela dan menerima dengan suci hati. Menurut istilah rida berarti menerima dengan rasa senang apa yang diberikan oleh Allah, baik berupa peraturan, hukum, ataupun qada atau ketentuan nasib.
10.     Amal Saleh
            Menurut pengertian kebahasaan amal berarti perbuatan dan saleh berarti baik. Jadi amal saleh berarti perbuatan baik. Menurut istilah dalam pengertian yang khusus amal saleh atau perbuatan yang baik ialah setiap hal yang mengajak dan membawa kwtaatan terhadap Allah SWT, atau setiap perbuatan yang mengantar pada ketaatan terhadap Allah SWT, baik perbuatan lahir maupun batin. Syarat sahnya amal saleh adalah :
a.       Dikerjakan dengan niat ikhlas karena Allah SWT semata
b.      Amal saleh hendaknya dilakukan secara sah, sesuai dengan petunjuk syara’ (al-qur’an dan hadits)
c.       Dilakukan dengan mengetahui ilmunya
11.    Saja’ah
            Berani menyampaikan pendapat, bertindak, menegakkan keadilan dan menumpas kebatilan.
12.    Istiqamah
            Yaitu berdiri lurus pada jalan yang benar / islam, sedikitpun tidak condong pada ajaran yang sesat, dalam setiap situasi dan kondisi.
13.    Tawakal
            Menurut istilah bahasa, tawakal pada Allah berarti berserah diri pada Allah atau menggantungkan diri pada Allah. Sedangkan menurut ajaran islam, tawakal pada Allah berarti berserah diri pada qada dan qadar Allah, setelah berusaha(berikhtiar) sekuat mungkin sesuai dengan kewajiban sebagai manusia.
14.    Tawadhu
            Menurut bahasa, kata tawadhu berasal dari bahasa Arab yang berarti rendah hati. Sedangkan menurut istilah, tawadhu berarti sikap rendah hati atau sikap tidak menonjolkan diri atau tidak menyombongkan diri.
15.    Taat
            Menurut bahasa, kata taat berasal dari bahasa Arab yaitu dari kata tha’at yang artinya tunduk atau patuh. Menurut istilah tha’at berarti menjalankan segala apa yang diperintahkan, dan menjauhi segala apa yang dilarang.
16.    Qana’ah
            Kata qana’ah berasal dari bahasa arab, artinya mersa cukup. Makna secara bahasa ini maksudnya merasa cukup dengan apa yang kita dapatkan atau Allah berikan kepada kita, atau dengan kata lain rela dengan apa yang diberikan oleh Allah SWT.
17.    Sabar
            Kata sabar berasal dari bahasa Arab yaitu kata Shabara, artinya menahan diri atau mengekang. Sabar adalah menahan diri dari berputus asa, meredam amarah jiwa, mencegah lisan untuk mengeluh, serta menahan anggota badan dari berbuat kemungkaran. Dalam pengertian lain dikatakan bahwa sabar juga dapat diartikan sebagai sikap tabah hati baik dalam mendapatkan sesuatu yang tidak disenangi atau kehilangan sesuatu yang disenangi.
18.    Ikhlas
            Ikhlas adalah melakukan amal, baik perkataan maupun perbuatan yang ditunjukan untuk Allah semata. Imam Ali ra juga berkata, “orang yang ikhlas adalah orang yang memusatkan pikirannya agar setiap amal diterima oleh Allah SWT.”
19.    Syukur
            Syukur adalah menerima apapun secara ikhlas yang diberikan oleh Allah, kemudian menggunakan dan mengelola nikmat yang ada secara baik. 3 cara bersyukur kepada Allah. Pertama, bersyukur denga hati nurani. Kata hati alias nurani selalu benar dan jujur. Orang yang bersyukur dengan hati nuraninya sebenarnya tidak akan pernah menginkari banyaknya nikmat Allah. Kedua, bersyukur dengan ucapan. Lidahlah yang biasa melafalkan kata-kata ungkapan yang paling baik untuk menyatakan syukur kita kepada Allah adalah hamdalah. Ketiga, bersyukur dengan perbuatan, yang biasanya dilakukan anggota tubuh. Tubuh yang diberikan Allah kepada manusia sebaiknya dipergunakan untuk hal-hal yang positif.

Senin, 07 Mei 2012

Tugas !


"Guru Yang Baik dan Guru Yang Hebat"

1.                  Didalam UU No.14 Tahun 2005,  Guru sebagai tenaga profesional harus memiliki kualifikasi akademik, kompetensi dan sertifikat pendidik. Kualifikasi akademik berjalan secara integral dengan kompetensi pedagogik (kemampuan mengelola pembelajaran peserta didik), komptensi kepribadian (kemampuan keperibadian yang mantap, berakhlak mulia, arif, dan berwibawa serta menjadi teladan peserta didik) dan komptensi professional (kemampuan penguasaan materi pelajaran secara luas dan mendalam), komptensi sosial (kemampuan guru untuk berkomunikasi secara efektif dan efisien dengan peserta didik, sesama guru, orang tua/wali dan masyarakat sekitar.
Menurut pernyataan Mendikbud RI dan dari pandangan diatas dapat disimpulkan bahwa guru yang baik adalah guru yang mempunyai kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi professional dan kompetensi sosial yang baik sehingga bisa menjelaskan sesuatu kepada muridnya sehingga paham. Sedangkan guru yang hebat adalah guru yang telah memiliki semua kompetensi diatas dan dia memiliki kemampuan untuk bisa memahami perkembangan psikologis peserta didiknya sehingga bisa menemukan cara yang tepat dalam menghadapi setiap permasalahan yang dihadapi oleh anak didiknya baik itu didalam kelas maupun diluar kelas.
2.                  saya memilih untuk menjadi guru yang hebat karena guru yang hebat itu sudah tentu baik, sedangkan guru yang baik belum tentu hebat. Didalam praktek pengajarannya, keadaan psikologis tiap anak pasti akan berbeda. Meskipun seorang guru telah menjelaskan sesuatu kepada anak sehingga paham, tetapi anak tersebut tidak berkeinginan untuk mengamalkan, tetap saja ilmu yang diberikannya akan sia-sia. Disinilah diperlukan suatu ketampilan untuk bisa menumbuhkan motivasi dan semangat anak untuk melakukan sesuatu sesuai dengan keinginan dan kemampuannya. Seorang guru tidak boleh membiarkan anak didiknya hanya diam dan mendengarkan penjelasannya, tetapi dia juga harus bisa meningkatkan kreativitas dan jiwa kritis anak terhadap pelajarannya sehingga mereka antusias dan susana kelas menjadi hidup.
3.                  Menurut saya profil ideal seorang guru Bahasa Indonesia adalah seseorang yang bisa menginspirasi dan menumbuhkan sikap nasionalisme terhadap Bahasa Indonesia. Pada era informasi sekarang ini kesadaran tiap orang terhadap berbahasa dirasakan sangat kurang, karena bermunculannya Bahasa-bahasa Asing dan Bahasa Gaul anak remaja. Orang-orang lebih memilih mempelajari Bahasa Asing dibanding Bahasa Indonesia. Hal tersebut tidak dapat disalahkan karena bagaimanapun Bahasa Asing telah masuk kedalam suatu keterampilan yang dibutuhkan dalam menghadapi persaingan di dunia luar. Tetapi bagaimana caranya agar orang-orang tidak mengesampingkan mempelajari Bahasa Indonesia yang merupakan Bahasa persatuan Bangsa kita.
4.                  Banyak sekali manfaat yang diperoleh setelah membaca wacana yang berjudul ” Pendidik Profesional, Antara Harapan dan Tantangan” oleh Boy Yendra Tamin. Wacana diatas sangat penting bagi seorang pendidik, baik itu guru maupun dosen. Meskipun sama-sama berprofesi mengajar, sisi pembedanya, guru mengajar pada lembaga pendidikan sekolah dari pendidikan usia dini sampai pendidikan menengah, sedangkan dosen mengajar pada pendidikan tinggi. Namun bukan berarti posisi dosen lebih tinggi derajatnya dari seorang guru, karena keduanya berprofesi sebagai pendidik. Kedudukan guru dan dosen pun sama-sama untuk meningkatkan mutu pendidikan nasional.
Didalam wacana tersebut menyebutkan bahwa Tujuan pendidikan nasional yaitu berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri serta menjadi warga Negara yang demokratis dan bertanggung jawab. Agar mencapai tujuan tersebut seorang guru harus memiliki kualifikasi akademik, kompetensi dan sertifikat pendidik. Kompetensi yang wajib dimiliki seorang guru antara lain kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi professional. Keterampilan diatas dimaksudkan agar seorang guru tidak hanya bisa mengajarkan materi didalam kelas tetapi juga mendidik agar bisa menjadi seseorang yang bisa berguna dan dibanggakan oleh orang tua, keluarga dan lingkungannya di masa yang akan datang.

Rabu, 11 April 2012

Latihan 1



BAHASA INDONESIA: Latihan 1
Mata Kuliah     : Bahasa Indonesia                               
Dosen              : Hj. Isna Sulastri, Dra. M. Pd.
Nama               : ASMA QONITA NISAUL ULA
NIM                : 41032151111020
Tanggal            : 11 April 2012

BAGIAN A
Petunjuk
1.      Kerjakanlah soal di bawah ini dengan cara menghitamkan huruf B jika pernyataan yang terdapat dalam soal, Anda anggap benar dan hitamkan S jika salah. Contoh jika jawaban betul: (B-S).
2.      Jawaban ditulis langsung pada lembar soal ini. Untuk ini silakan dikopi paste terlebih dahulu.
3.      Pengetikan soal ini belum tertata rapi maka rapikanlah dalam blog Anda.
SOAL
1.               Tujuan utama perkuliahan Bahasa Indonesia adalah untuk menumbuhkembangkan keterampilan berbahasa mahasiswa, baik lisan atau pun tulisan ( B-S ).
2.               Salah satu upaya menumbuhkembangkan keterampilan berbahasa mahasiswa adalah dengan menumbuhkan kesadaran berbahasa Indonesianya terlebih dahulu ( B-S ).
3.               Kesadaran berbahasa seseorang tidak dapat dilihat  dari tanggung jawab dan sikapnya terhadap bahasa Indonesia ( B-S ).
4.               Mahasiswa Program Studi Matematika tidak perlu memiliki kesadaran berbahasa Indonesia sebab mereka tidak akan menjadi guru bahasa Indonesia (B-S).
5.               Membiasakan diri berbahasa sesuai kaidah bahasa Indonesia terutama di dalam forum-forum resmi, merupakan wujud tanggung jawab seseorang terhadap bahasanya ( B – S  ).
6.               Menurut Mansoer Pateda, tanggung jawab terhadap bahasa dan berbahasa dapat diwujudkan hanya dalam bentuk partisipasi formal ( B – S  ).
7.               Pengguna bahasa yang berpartisipasi secara formal, biasanya dengan kesadaran sendiri berusaha untuk menjadi peserta aktif dalam setiap kegiatan kebahasaan (B-S).
8.               Mahasiswa Program Studi Matematika idealnya berpartisipasi dalam kegiatan pembinaan bahasa,  minimal dalam bentuk partisipasi formal (B-S).
9.               Salah satu contoh partisipasi formal yang dapat dan patut dilakukan mahasiswa  Program Studi Matematika adalah berupaya untuk selalu berhati-hati dalam berbahasa sehingga bahasa yang digunakannya senantiasa tertib dan terpelihara ( BS ).
10.           Mampu menghafal kaidah bahasa Indonesia dengan baik tanpa berlatih mengimplementasikannya belum menjamin seseorang akan menjadi pengguna bahasa yang baik (B-S).
11.           Mahasiswa Program Studi Matematika yang sudah berusaha untuk berbahasa sesuai kaidah  bahasa Indonesia dalam forum-forum resmi, merupakan pertanda bahwa dia sudah memiliki kesadaran berbahasa (B-S).
12.           Kalimat efektif biasanya tidak komunikatif (B-S).
13.           Kalimat yang ambigu termasuk salah satu contoh kalimat efektif ( B-S )
14.           Kalimat ambigu adalah kalimat yang tidak memiliki struktur yang lengkap (B-S ).
15.           Penggunaan bahasa Indonesia  yang baik dapat dilihat antara lain dari keefektifan kalimat  serta ketepatan diksi dan ejaannya (B-S).

BAGIAN B                                   
Petunjuk
Jawablah soal berikut dengan mempergunakan bahasa Indonesia yang baik dan bernalar
karena bahasa jawaban Anda termasuk bagian yang dinilai.
SOAL
Ada pernyataan yang berbunyi, “Maju mundurnya suatu bahasa sangat ditentukan oleh kesadaran berbahasa pemakai bahasa itu sendiri”.
1.         Setujukan Anda dengan pandangan tersebut? Apa alasannya?  Tulislah argumentasi Anda terkait ini dalam satu paragraf.
Jawab:
            Setuju, karena kesadaran berbahasa itu sangat penting dalam menentukan maju mundurnya suatu bahasa. Kesadaran bahasa dapat tercermin dari rasa tanggung jawab, sikap, dan partisifasi seseorang terhadap bahasa. Kesadaran tersebut menimbulkan kemauan dan keikutsertaan dalam mengembangkan bahasa.
2.         Tulislah minimal lima ciri orang yang memiliki Kesadaran Berbahasa. Uraikan masing-masingnya dengan singkat.
Jawab: 
·        Sikap terhadap bahasa dan berbahasa
·        Tanggung jawab terhadap bahasa dan berbahasa
·        Rasa ikut memiliki bahasa
·        Memiliki kemampuan membina dan mengembangkan bahasa
·        Ikut berpartisifasi dalam pembinaan bahasa
3.         Sudahkah Anda amiliki kelima ciri tersebut? Jelaskanlah dengan argumentasi yang bernalar.
Jawab :
Belum, karena seseorang memiliki kesadaran terhadap bahasa apabila telah mempunyai sikap, tanggung jawab dan partisipasi yang baik terhadap bahasa. Sedangkan saya belum termasuk kedalamnya, dalam hal tanggung jawabnya belum menambah pengetahuan tentang bahasa tersebut dan berbicara pun masih tercampur dengan bahasa daerah. 
4.         Upaya apakah yang sebaiknya dilakukan untuk meningkatkan keterampilan berbahasa Anda?
Jawab :
Untuk meningkatkan keterampilan bahasa harus menanamkan kesadaran dan kecintaan terhadap bahasa, dengan kesadaran terhadap bahasa kita bisa ikut berpartisipasi terhadap pembinaan bahasa. Ketika sedang mempergunakan bahasa (berbicara/menulis) selalu memperhatikan kaidah bahasa yang bersangkutan, meskipun tidak ada yang memerintah. selain itu, bisa mengikuti pembinaan melalui pertemuan formal seperti forum diskusi, lokakarya, seminar, musyawarah atau kongres yang membicarakan masalah kebahasaan.  

Senin, 09 April 2012

KESADARAN BERBAHASA


                      Bahasa merupakan hasil aktivitas manusia. Maju mundurnya suatu bahasa bergantung pada tiap pemakain bahasa. Kesadaran berbahasa itu tercermin pada tanggung jawab, sikap, perasaan memiliki bahasa yang pada gilirannya menimbulkan kemauan untuk ikut membina dan mengembangkan bahasa.
1.        Pengertian
           Tiap  orang mempunyai pandangan tentang bahasanya sendiri. Dia menyadari bahwa bahasa merupakan suatu kebutuhan untuknya. Kesadaran ini menimbulkan sikap, bagaimana ia bertingkah laku dan menggunakan bahasanya. Sikap itu diwarnai pula oleh sikap menghormati, bertanggung jawab, dan ikut memiliki bahasa itu. Sikap bertanggung jawab akan melahirkan kemauan baik secara pribadi maupun kelompok untuk membina dan mengembangkan bahasanya.
            Menurut hemat penulis, yang dimaksud dengan kesadaran berbahasa ialah sikap seseorang baik secara sendiri-sendiri maupun secara bersama-sama bertanggug jawab sehingga menimbulkan rasa memiliki suatu bahasa dan dengan demikian ia berkemauan untuk ikut membina dan mengembangkan bahasa itu. Jadi, dengan definisi ini terdapat ciri-ciri :
·        Sikap terhadap bahasa dan berbahasa
·        Tanggung jawab terhadap bahasa dan berbahasa
·        Rasa ikut memiliki bahasa
·        Berkemauan membina dan mengembangkan bahasa
            Kesadaran seperti ini perlu ditumbuhkan agar sesuatu bahasa terpelihara pemakaiannya.
2.        Tanggung Jawab Terhadap Bahasa dan Berbahasa
            Tiap orang menguasai paling sedikit satu bahasa. Orang yang hanya menguasai satu bahasa disebut monolingual. Orang yang menguasai dua bahasa disebut bilingual atau dwibahasawan, sedangkan orang yang menguasai lebih dari dua bahasa disebut multilingual.
            Ciri orang yang bertanggung jawab terhadap suatu bahasa dan pemakaian bahasa adalah :
a.          Selalu berhati-hati menggunakan bahasa
b.         Tidak merasa senang melihat orang yang menggunakan bahasa secara serampangan
c.          Memperingatkan pemakai bahasa kalau ternyata ia membuat kekeliruan
d.         Tertarik perhatiannya kalau orang menjelaskan hal yang berhubungan dengan bahasa
e.          Dapat mengoreksi pemakaian bahasa orang lain
f.           Berusaha menambah pengetahuan tentang bahasa tersebut
g.          Bertanya kepada ahlinya kalau menghadapi persoalan bahasa.
            Tanggung jawab berbahasa sangat diperlukan untuk menghindari salah pengertian. Bahkan sering bahasa seseorang dihubungkan dengan jiwanya, tingkah lakunya. Pemilihan kata, kelembutan pengungkapan, keteraturan pelafalan menunjukan status sosial pembicara.
            Tanggung jawab berbahasa mengandung unsur keselamatan pembicara dan pemakai bahasa. Tanggung jawab pemakai bahasa bukan saja terbatas pada pemilihan kata dan kalimat yang baik, melainkan juga bagaimana cara mengucapkan kata dan kalimat itu.
3.        Sikap Terhadap Bahasa dan Berbahasa
            Bahasa adalah penjelmaan yang unik dari suatu kebudayaan, maka behasa dipengaruhi oleh pemakai bahasa yang pada dasarnya unik pula. Kalau kita perhatikan kehidupan di desa dan kehidupan kota, maka terlihat pula perbedaan pengungkapan bahasa.
            Sikap terhadap bahasa dan berbahasa dapat dilihat dari dua segi, yakni :
a.      Sikap positif
b.      Sikap negatif
            Sikap positif terhadap bahasa lebih banyak kita lihat dari pelaksanaan bahasa dalam kehidupan sehari-hari oleh pemakai bahasa.
4.        Rasa Memiliki Bahasa
            Sikap positif terhadap bahasa dan berbahasa menghasilkan perasaan memiliki bahasa. Maksudnya bahasa sudah dianggap kebutuhan pribadi yang esensial, milik pribadi, dijaga dan dipelihara.
            Bahasa adalah sesuatu yang kita dapat dengan proses belajar yang kemudian harus kita sadari bahwa bahasa itu adalah milik kita. Baik BD, BI, atau BA kita anggap milik pribadi.
            Dengan kesadaran bahasa diharapkan timbul rasa memiliki bahasa, orang harus bertitik tolak dari anggapan bahwa bahasa adalah miliknya pribadi.
            Dan memang demikian keadaannya. Sebab, setiap saat kita gunakan tanpa bertanya kepada pemiliknya. Kalau bahasa dianggap sebagai milik pribadi, konsekuensinya kita wajib memeliharanya.
5.        Partisifasi Dalam Pembinaan Bahasa
            Berbahasa yang baik sesuai kaidah yang telah dianjurkan dan disertai dengan tanggung jawab, sikap dan rasa memiliki terhadap bahasa adalah sebagai bentuk  dari partisipasi dalam pembinaan bahasa.  Bukti keikutsertaan kita dalam pembinaan bahasa adalah sikap yang kita lakukan dalam mengunakan bahasa. Partisipasi ini penulis menamakan sebagai partisipasi informal. Selain itu ada juga partisipasi yang lain, yang penulis sebut partisipasi formal. Partisipasi formal dapat terlihat dari usaha kita dalam kegiatan pembinaan formal.  Kita bisa ikut dalam sosialisasi, diskusi, seminar, lokakarya, kongres dan lain sebagainya yang membahas tentang kebahasaan, dan kita bisa mempublikasiakan dengan baik dengan cara membuat buku, surat kabar dan lain sebagainya.  tentu tidak semua orang sanggup melaksanakan partisipasi formal tetapi setidaknya partisaipasi informal dengan penuh kesadaran harus diusakan dengan baik menggunakan bahasa secara tertib. Dengan usaha yang maksimal dan menyadari perlunya pertisipasi pembinaan bahasa maka seberat apapun akan berhasil.