Senin, 09 April 2012

KESADARAN BERBAHASA


                      Bahasa merupakan hasil aktivitas manusia. Maju mundurnya suatu bahasa bergantung pada tiap pemakain bahasa. Kesadaran berbahasa itu tercermin pada tanggung jawab, sikap, perasaan memiliki bahasa yang pada gilirannya menimbulkan kemauan untuk ikut membina dan mengembangkan bahasa.
1.        Pengertian
           Tiap  orang mempunyai pandangan tentang bahasanya sendiri. Dia menyadari bahwa bahasa merupakan suatu kebutuhan untuknya. Kesadaran ini menimbulkan sikap, bagaimana ia bertingkah laku dan menggunakan bahasanya. Sikap itu diwarnai pula oleh sikap menghormati, bertanggung jawab, dan ikut memiliki bahasa itu. Sikap bertanggung jawab akan melahirkan kemauan baik secara pribadi maupun kelompok untuk membina dan mengembangkan bahasanya.
            Menurut hemat penulis, yang dimaksud dengan kesadaran berbahasa ialah sikap seseorang baik secara sendiri-sendiri maupun secara bersama-sama bertanggug jawab sehingga menimbulkan rasa memiliki suatu bahasa dan dengan demikian ia berkemauan untuk ikut membina dan mengembangkan bahasa itu. Jadi, dengan definisi ini terdapat ciri-ciri :
·        Sikap terhadap bahasa dan berbahasa
·        Tanggung jawab terhadap bahasa dan berbahasa
·        Rasa ikut memiliki bahasa
·        Berkemauan membina dan mengembangkan bahasa
            Kesadaran seperti ini perlu ditumbuhkan agar sesuatu bahasa terpelihara pemakaiannya.
2.        Tanggung Jawab Terhadap Bahasa dan Berbahasa
            Tiap orang menguasai paling sedikit satu bahasa. Orang yang hanya menguasai satu bahasa disebut monolingual. Orang yang menguasai dua bahasa disebut bilingual atau dwibahasawan, sedangkan orang yang menguasai lebih dari dua bahasa disebut multilingual.
            Ciri orang yang bertanggung jawab terhadap suatu bahasa dan pemakaian bahasa adalah :
a.          Selalu berhati-hati menggunakan bahasa
b.         Tidak merasa senang melihat orang yang menggunakan bahasa secara serampangan
c.          Memperingatkan pemakai bahasa kalau ternyata ia membuat kekeliruan
d.         Tertarik perhatiannya kalau orang menjelaskan hal yang berhubungan dengan bahasa
e.          Dapat mengoreksi pemakaian bahasa orang lain
f.           Berusaha menambah pengetahuan tentang bahasa tersebut
g.          Bertanya kepada ahlinya kalau menghadapi persoalan bahasa.
            Tanggung jawab berbahasa sangat diperlukan untuk menghindari salah pengertian. Bahkan sering bahasa seseorang dihubungkan dengan jiwanya, tingkah lakunya. Pemilihan kata, kelembutan pengungkapan, keteraturan pelafalan menunjukan status sosial pembicara.
            Tanggung jawab berbahasa mengandung unsur keselamatan pembicara dan pemakai bahasa. Tanggung jawab pemakai bahasa bukan saja terbatas pada pemilihan kata dan kalimat yang baik, melainkan juga bagaimana cara mengucapkan kata dan kalimat itu.
3.        Sikap Terhadap Bahasa dan Berbahasa
            Bahasa adalah penjelmaan yang unik dari suatu kebudayaan, maka behasa dipengaruhi oleh pemakai bahasa yang pada dasarnya unik pula. Kalau kita perhatikan kehidupan di desa dan kehidupan kota, maka terlihat pula perbedaan pengungkapan bahasa.
            Sikap terhadap bahasa dan berbahasa dapat dilihat dari dua segi, yakni :
a.      Sikap positif
b.      Sikap negatif
            Sikap positif terhadap bahasa lebih banyak kita lihat dari pelaksanaan bahasa dalam kehidupan sehari-hari oleh pemakai bahasa.
4.        Rasa Memiliki Bahasa
            Sikap positif terhadap bahasa dan berbahasa menghasilkan perasaan memiliki bahasa. Maksudnya bahasa sudah dianggap kebutuhan pribadi yang esensial, milik pribadi, dijaga dan dipelihara.
            Bahasa adalah sesuatu yang kita dapat dengan proses belajar yang kemudian harus kita sadari bahwa bahasa itu adalah milik kita. Baik BD, BI, atau BA kita anggap milik pribadi.
            Dengan kesadaran bahasa diharapkan timbul rasa memiliki bahasa, orang harus bertitik tolak dari anggapan bahwa bahasa adalah miliknya pribadi.
            Dan memang demikian keadaannya. Sebab, setiap saat kita gunakan tanpa bertanya kepada pemiliknya. Kalau bahasa dianggap sebagai milik pribadi, konsekuensinya kita wajib memeliharanya.
5.        Partisifasi Dalam Pembinaan Bahasa
            Berbahasa yang baik sesuai kaidah yang telah dianjurkan dan disertai dengan tanggung jawab, sikap dan rasa memiliki terhadap bahasa adalah sebagai bentuk  dari partisipasi dalam pembinaan bahasa.  Bukti keikutsertaan kita dalam pembinaan bahasa adalah sikap yang kita lakukan dalam mengunakan bahasa. Partisipasi ini penulis menamakan sebagai partisipasi informal. Selain itu ada juga partisipasi yang lain, yang penulis sebut partisipasi formal. Partisipasi formal dapat terlihat dari usaha kita dalam kegiatan pembinaan formal.  Kita bisa ikut dalam sosialisasi, diskusi, seminar, lokakarya, kongres dan lain sebagainya yang membahas tentang kebahasaan, dan kita bisa mempublikasiakan dengan baik dengan cara membuat buku, surat kabar dan lain sebagainya.  tentu tidak semua orang sanggup melaksanakan partisipasi formal tetapi setidaknya partisaipasi informal dengan penuh kesadaran harus diusakan dengan baik menggunakan bahasa secara tertib. Dengan usaha yang maksimal dan menyadari perlunya pertisipasi pembinaan bahasa maka seberat apapun akan berhasil.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar